Flood Resilience Innovation Challenge

flood resilience innovation challenge

Banjir menyebabkan kerusakan lebih besar dari bencana alam lainnya di seluruh dunia dan dapat menimbulkan beberapa kerugian besar baik di sektor ekonomi, sosial dan kemanusiaan.1 Menurut data statistik dari UNISDR, selama 20 tahun terakhir, banjir telah memberi dampak kepada 2,3 miliar orang, dimana 95% dari jumlah tersebut tinggal di Asia.  Secara global, kerugian ekonomi dari bencana seperti gempa bumi, tsunami, siklon dan banjir, berjumlah rata-rata US$ 250 miliar sampai US$ 300 Millar setiap tahunnya2.  Indonesia telah mengalami 141 bencana yang tercatat antara tahun 2005 sampai 2014, dengan perkiraan beban keuangan sekitar USD 11 miliar. 

Ada beberapa pengakuan yang muncul bahwa pendekatan alternatif dan pendekatan pembaharuan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang kompleks dan berkembang. Untuk Mencapai hasil-hasil  kemanusiaan yang lebih baik, membutuhkan usaha kolaborasi antara aktor-aktor yang berbeda dan aktor-aktor baru untuk berkontribusi memberikan pemikiran dan solusi yang berbeda untuk menghadapi tantangan-tantangan yang kompleks. 

Dalam konteks lokal, masyarakat sipil Indonesia sedang mengembangkan berbagai solusi inovatif untuk beberapa masalah yang mereka hadapi. Melalui teknologi, berbagi ide dan pengalaman telah membuat kolaborasi menjadi mungkin pada suatu tingkat yang belum pernah dilihat sebelumnya. Tetapi sangat sering innovator-inovator ini harus berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan yang diperlukan untuk merealisasikan inovasi mereka di kemudian hari. Oleh karena itu, Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, bersama dengan mitra mitranya berusaha untuk menemukan dan mendukung pendekatan-pendekatan baru untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan pembangunan, dan berusaha memastikan bahwa masyarakat lokal dan yang terkena dampak yang akan memimpin proses.   

Untuk ketentuan lebih lanjut, Klik link ini